Followers

Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Wednesday, December 1, 2010

Uwais Al Qarni - Terkenal Di Langit Tak Terkenal Di Bumi

foto Uwais Al Qarni


Uwais Al Qarni: Terkenal Di Langit Tak Terkenal di Bumi

fadhilahmj.blogspot.com - Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru,rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan,kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati
Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang
cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.

Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan
perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang
mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan
bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah
sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami
sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai
waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! “katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban
asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?”
tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada
orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat
penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.


Baca Selanjutnya......

Saturday, May 8, 2010

Nasihat Dari Syeikh Abdul Qadir al-Jailani

Syekh Abdul Qadir Jailani berkata

Jika kita ingin berguru kepada seseorang untuk sampai kepada Allah, hendaklah terlebih dahulu kita berwudhuk dengan sempurna. Sambil berwuduk itu tetapkanlah ingatan kita kepada Allah, jangan mengingat yang lain.

Dan mata hendaklah tertuju ke tempat wudhuk saja, dan janganlah sampai memandang yang lain. Setelah itu laksanakanlah shalat. Kita buka pintu shalat dengan wudhuk, kemudian kita buka pula pintu istana Allah dengan shalat. Apabila shalat telah selesai kita kerjakan, maka tanyakanlah kepada Allah melalui bisikan hati.

  • Siapakah yg patut kita contoh sebagai pembimbing atau guru kita?
  • Siapakah yang benar-benar dapat menyampaikan ajaran Allah kepada kita?
  • Siapakah orang yang menjadi pilihanNya?
  • Siapakah khalifahNya?
  • Siapakah waliNya ?


Insya Allah, Allah Yang Maha Pemurah, kelak akan menjawab pertanyaan kita itu dengan meniupkan ilham ke dalam hati kita. Dia akan memberikan petunjuk ke dalam diri kita yang disebut Sirr. Allah akan memberikan kita tanda-tanda atau isyarat yang jelas. Hati kita yang selama ini gelap gulita akan terbuka oleh cahaya hidayahNya. Kemudian cahaya itu akan menuntun kita ke jalan yang benar.

Ingatlah, siapa yang berusaha dengan sungguh-senguh mencariNya pasti akan menemuiNya

Firman Allah:
" Dan orang-orang yang bermujahadah (dalam perjalanan) menuju kami, kelak kami akan menunjukkan kepada mereka jalan agar sampai kepada kami "
(QS Al Ankabut 29:69)

Baca Selanjutnya......

Jin, Di Alam Ghaib Atau Di Alam Nyata?

Tuan Guru Prof.Dr. Hj Jahid Hj Sidek An-Naqsyabandi Al-Khalidi
menyatakan bahawa salah satu anggapan salah masyarakat kita
berhubung dengan jin dan syaitan ini ialah anggapan bahawa jin
dan syaitan itu berada di satu alam ghaib.

Sebenarnya jin itu berada di alam nyata iaitu di atas muka bumi
ini di mana kita tinggal dan hidup ini.Oleh sebab jin atau syaitan
ini dijadikan dari api maka tubuh atau jasadnya serupa angin.
Bagaimana kita tidak boleh melihat angin maka begitulah kita
tidak boleh melihat jin atau syaitan.

Menurut sebuah Hadis Rasulullah S.A.W menyebutkan ,
"Allah jadikan jin dalam tiga jenis atau rupa seperti anak Adam,
seperti binatang dan seperti angin di ruang udara luas”.

Bagaimana angin boleh masuk meresap ke dalam tubuh manusia
menerusi rongga tubuh badan seperti mulut,hidung,liang-liang
kecil di kulit ( liang roma), maka begitulah jin dan syaitan boleh
masuk ke dalam tubuh manusia.


TIDAK TERLIHAT BUKAN BERERTI TIDAK ADA

Berapa banyak hal yang tidak dapat kita lihat tetapi benda itu
ada. Arus letrik misalnya.Bukti keujudan dan pengaruhnya
yang nampak dalam mentol.Udara yang kita hirup tidak juga
dapat dilihat tetapi kita dapat merasakannya ; begitu juga
dengan roh.

DALIL ADANYA JIN

Tidak terlihat bukan tidak ada contoh arus letrik
- pengaruhnya mentol menyala / udara - rasa

Jadinya dari api tetapi sekarang bukan lagi api seperti kita dari
tanah, bukan lagi tanah.Dibaling dengan tanah pun sakit juga.
Boleh diseksa dengan tanah.

Manusia tidak boleh melihat jin dalam kewujudannya yang
asli, kerana Allah s.w.t. telah memperkenankan permohonan
Jaan (ketika mula diciptakan) agar ia dapat melihat tetapi ia
sendiri tidak
dapat dilihat. (JIN pula tidak boleh melihat malaikat kerana
malaikat diciptakan dari cahaya di mana lebih hebat dari JIN).

Firman Allah (bermaksud): “Sesungguhnya dia dan pengikut-
pengikutnya melihat kamu dari semua tempat yang kamu
tidak boleh melihat mereka.” - (Surah Al-A’raaf: 27).

Maka barang siapa yang mendakwa dia telah melihat jin/
Syaitan (dalam keadaan rupa sebenar) maka dia telah
berdusta, kecuali dia memang seorang nabi. Sebab bagi para
nabi melihat jin adalah suatu mukjizat

SYAITAN SAMPAI IKUT ALIRAN DARAH

Nabi s.a.w bersabda :
“ Sesungguhnya syaitan mengalir pada peredaran darah
manusia “ hr Bukhari dan Muslim

Dalam riwayat lain disebutkan :
“ Sesungguhnya syaitan mencapai ( masuk kepada ) anak
Adam sampai ke darah ‘ hr Bukahari dan Muslim

JENIS SYAITAN

Firman Allah :
“ dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh,
iaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan ( dari jenis ) jin “
Surah Al-An’am 112

AKIDAH JIN

Jin, sama seperti manusia dalam masalah ini. Ada yang Muslim,
Nasrani , Yahudi , Kristian , Syiah dan sebagainya. Bahkan di
kalangan jin Muslim, sebagai mana manusia Muslim , ada yang
menganut aliran Qadariah, Ahlul Sunnah, ahli bidaah, ada yang
taat, ada yang bermaksiat, ada yang berdosa dan sebagainya

JENIS JIN

Mereka ada beberapa jenis. Jenis tulin berupa angin; tidak
makan, tidak minum,tidak mati dan tidak beranak.
- Luqatul Mirjan

Di antara mereka ada beberapa jenis yang makan , minum ,
mati dan menikah.

MERTABAT JIN

Syeikh Abu Bakar Al-Jaza’iri berkata : Sesungguhnya jin
termasuk yang solleh di antara mereka lebih rendah dari
manusia, kerana Allah telah menetapkan kemuliaan manusia
di dalam firmanNya :
“ Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak keturunan
Adam dan telah Kami angkut mereka di daratan dan di lautan,
Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami
lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna
atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan “
Surah Al-Isra’ 70

MENGENAL UNSUR PENYAKIT ATAU GANGGUAN

a. Saka ( genetic )
b. Silat
c. Sihir
d. Singgah ( macam hysteria )
e. Bomoh / urut
f. Menuntut / khurafat

Firman Allah :
“ Dan ingatlah kamu pada hari ( masa mana ) Allah
menghimpunkan mereka semua lalu Allah berfirman, Hai
Golongan Jin ! Sesungguhnya kamu telah menyesatkan ramai
manusia.Lalu berkatalah penolong- penolong jin itu yang
terdiri dari kalangan manusia ( pawang,dukun,bomoh ) :
Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami
telah mendapatkan kesenangan dari sebahagian yang lain,
dalam keadaan ini ajal kami yang Engkau tentukan telah
sampai ( tanpa dapat bertaubat ).

Allah berfirman :Nerakalah tempat tinggal kamu semua,
sedangkan kamu akan kekal di dalamnya, kecuali apa yang
dikehendaki Allah, sesungguhnya Tuhan kamu amat
Bijaksana lagi Mengetahui “.
Surah al-An’am :128

MINTA TOLONG DARI JIN

Meminta perlindungan kepada jin adalah syirik, dan Allah
telah mengantikannya dengan yang lebih baik daripada itu.
- Riwayat Ibnu Hatim dari Ikrimah

TEMPAT TUMPUAN JIN

Ibnu Abbas berkata : Syaitan bertenggek di hati anak Adam ,
jika ( anak Adam ) lupa dan lalai maka dia membisikkan
( sesuatu ) dan jika ( anak Adam ) mengingati Allah maka dia
pergi.

Di sini jelas bahawa syaitan dapat masuk ke dalam jasad
manusia dan memilih hati sebagai tempatnya kerana hati
merupakan komander. Jika syaitan telah menguasai hati
maka seluruh jasad akan tunduk kepadanya.

Nabi s.a.w bersabda :

“ Ketahuilah bahawa di dalam jasad ada gumpalan, bila
gumpalan itu baik maka baiklah seluruh jasad dan apabila
rosak maka rosaklah seluruh jasad, ketahuilah ia itu adalah
hati “ hr Bukhari / Muslim

JIN MENYAKITI

Syeikh Abu Bakar Al-Jaza’iri berkata : Sesungguhnya gangguan
jin kepada manusia merupakan sesuatu yang terjadi dan tidak
dinafikan, kerana terbukti dengan dalil pendengaran dan
peristiwa nyata.Akalpun tidak memustahilkannya bahkan
membolehkan dan mengakuinya.

Jin berkemampuan untuk berubah bentuk dengan cepat atau
fizikal mereka yang halus sehingga tidak dapat kita rasakan.

Sebabnya : Mereka disakiti / mengalih tempat mereka / atau
mungkin semata-mata kezaliman mereka menyakiti manusia
tanpa sebab sepertimana terjadi sesama manusia.


PENDINDING

Ada hati yang dikelilingi pagar iman dan benteng ketakwaan
serta dijaga oleh zikrullah sehingga syaitan tidak dapat masuk
ke dalamnya kecuali dengan cara mencuri-curi saat kelalaian
dan jika masuk maka zikrullah pun segera mengusirnya keluar
benteng secara terhina.

KAEDAH RAWATAN - PUKUL DADA

Dari Uthman bin Abil Ash r.a ia berkata : “ Wahai Rasulullah,
aku mengalami gangguan sesuatu dalam solatku sehingga aku
tidak tahu solat apa yang aku kerjakan “

Nabi s.a.w bersabda “ Itu adalah syaitan , kemarilah “
Kemudian aku mendekati kepadanya dan duduk di atas
kedua kakiku.Kemudian Nabi s.a.w memukul dadaku
dengan tangannya dan meludah dimulutku seraya
bersabda : Keluarlah musuh Allah “.
Nabi s.a.w melakukan hal tersebut 3 kali.

KEKUATAN PUKULAN

Dari Mathar bin Abdur Rahman Al A’anaq telah menceritakan
kepadanya Ummu Abban dari bapanya bahawa abangnya
Az-Zari’ pergi menemui Rasulullah S.A.W dengan membawa
anaknya / anak saudara perempuannya yang sedang gila.
Abangku berkata : “ Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku
membawa anakku / anak perempuanku yang sedang gila,
aku bawa dia kepada mu agar engkau mendoakannya kepada
Allah “. Nabi s.a.w bersabda “ Bawalah dia ke mari ‘.

Kemudian aku pergi mengambilnya lalu aku lepaskan ikatan
dan aku tanggalkan pakaian musafir dan aku gantikan dengan
dua pakaian yang baik dan aku pimpin tangannya ke hadapan
Rasulullah.

Lalu Baginda bersabda
“ Dekatkanlah kepadaku dan hadapkan punggungnya
kepadaku “. Ia ( abangku ) berkata, kemudian Nabi S.A.W
mengambil simpul-simpul kainnya dari atas dan bawahnya lalu
memukul punggung hingga aku lihat putih kedua ketiaknya
( ya’ni mengangkat tinggi ) seraya berkata “ Keluarlah musuh
Allah, keluarlah musuh Allah ” - Majma’uz Zawa’id

Tuan Guru Prof. Dr. Hj Jahid , seorang Syeikh dan juga
Pengamal Rawatan Islam yakin terhadap kebenaran pandangan
dua orang ulama’ Mesir iaitu Syeikh Mohd Abduh dan muridnya
Syeikh Sayyid al-Reda bahawa jin yang begitu dikenal dalam
Islam yang hidup dan bertubuh halus itu adalah kuman dan
virus seperti yang dikenali dalam perubatan Barat.

Syeikh Sayyid al-Reda menyebutkan pandangannya mengenai
jin dalam kitab tafsirnya,Al-Manar yang bermaksud,
“ Dan Ahli Ilmu Kalam ( Tauhid ) berkata, sesungguhnya jin
itu adalah ( kejadian Allah ) yang bertubuh halus dan hidup
yang tidak boleh dilihat.

Sesungguhnya telah pun kita katakan berkali-kali dalam Kitab
Tafsir al-Manar bahawa boleh disebutkan ( kejadian Allah )
yang hidup,bertubuh halus yang dapat dipastikan dan dikenal
di zaman ini menerusi mikroskop sebagai virus itu adalah
sebenarnya sejenis jin.Dan telah diketahui secara pasti ianya
adalah merupakan punca bagi kebanyakan penyakit “.
( Rujuk halaman 585, al-Tafsir wa al-Mufassirun )



credit : acitbudi-tujohbintang

Baca Selanjutnya......

Thursday, April 22, 2010

Amalan Harian

Amalan Harian

1.Bismillah hirohmanirohim1000<2500>
2.Alfatihah100 x
3.Selawat ke Atas Nabi40 <>
4.Istighfar (Astaghfirullah ha innAllah ha ghafurrurrahim)40 <>
5.Tasbih (SubhanAllah, walhamdulillah, wallaila ha illAllah Wallhakbar)40 <>
6.Lakhaula wala khuwata illa billa hilaliyilazim100 x
7.Laqad ja akum……sampai .,..azim (dalam Surah at-Taubah)40 <>
8.Waman yat taqilla……..sampai …qadra.(dalam Surah an-Nisa’ ayat 2-3)40 <>

Solat

1.Solat Hajat2 <>
2.Dhuha2 <>
3.Rawatib12 rakaat
3Tahajjud2 <>
4Tasbih4 rakaat (2 salam)
5Witir1 < 3 rakaat


Amalan Solat Tahajjud

SATU cara paling berkesan untuk berhubung dengan Allah s.w.t ialah dengan bangun mengerjakan ibadat, khususnya sembahyang Tahajud atau sembahyang di tengah malam. Allah mahu menguji sejauh mana taatnya seseorang makhluk yang mengaku bertuhankan Allah. Dengan kata lain, amalan bangun bertahajud adalah perbuatan amat berat untuk dikerjakan.

Namun, pada kesukaran inilah tersembunyi suatu rahsia Allah yang hanya sedikit sekali diketahui hamba-Nya. Sekalipun sembahyang Tahajud sekadar sunat, tetapi kelebihannya amat besar di sisi Allah dan tinggi nilainya. Firman Allah s.w.t bermaksud:“Dan dari malam, hendaklah engkau bertahajud (tinggalkan tidur untuk sembahyang) semoga Tuhanmu mengangkat kamu pada kedudukan yang terpuji.’ (Surah Al-Israk: Ayat 79) Ayat ini menjelaskan kepada kita betapa pentingnya sembahyang Tahajud. Ia peluang keemasan yang ditawarkan Allah kepada manusia untuk mengukuhkan hubungan mereka dengan Penciptanya. Sesungguhnya segala kesusahan dan kepayahan itu hanya dirasai mereka yang jarang atau tidak pernah melakukannya, namun bagi mereka yang biasa, ia menjadi suatu kenikmatan pula.

Bagi yang dapat menghayatinya, mereka akan berasa satu kerugian besar jika meninggalkan sembahyang Tahajud. Di waktu inilah – iaitu sepertiga malam, pintu langit akan terbuka luas untuk menerima taubat hamba Allah dan Malaikat akan membawa kendi emas untuk mengumpul air mata taubat bagi menyiram api neraka yang sedia menanti mahu membakar tubuh manusia di akhirat nanti. Sabda Rasulullah s.a.w bermaksud: “Allah s.w.t sayang kepada lelaki yang bangun malam kemudian mengerjakan sembahyang dan akan membangunkan isterinya dan kalau isterinya enggan, dipercikkan air di wajahnya. Dan Allah sayangkan perempuan yang bangun malam kemudian mengerjakan sembahyang dan membangunkan suaminya dan jika suaminya enggan, dipercikkan air ke wajahnya.” (Hadis Riwayat: Abu Daud)Sesungguhnya untuk mendapat kasih sayang daripada Allah bukan sesuatu yang mudah. Allah mengasihi orang yang beriman dengan melaksanakan suruhan-Nya dan meninggalkan yang dilarang.Sembahyang Tahajud satu suruhan Allah dan oleh itu Allah menyayangi mereka yang mengerjakan sembahyang ini.Bagi manusia yang benar-benar yakin dan patuh kepada Allah tidak akan keberatan untuk bangun melakukan Tahajud di tengah malam.

Saidina Umar Al-Khattab menyatakan fadilat atau kelebihan sembahyang malam dengan berkata maksudnya: “Sesiapa mengerjakan sembahyang malam (Tahajud) dengan khusyuk nescaya dianugerahkan Allah sembilan perkara, lima di dunia dan empat di akhirat.


Kurniaan di dunia ialah

a. Jauh daripada segala penyakit

b. Lahir kesan takwa pada wajahnya

c. Dikasihi sekalian mukmin dan seluruh manusia

d. Percakapannya mengandungi hikmat

e. Dikurniakan kekuatan dan diberi rezeki dalam agama (halal dan diberkati).

Sementara empat perkara di akhirat ialah:

a. Dibangkitkan dari kubur dengan wajah berseri-seri

b. Dipermudahkan hisab

c. Cepat melalui Sirat al-Mustaqim – seperti kilat

d. Diserahkan suratan amalan pada hari akhirat melalui tangan kanan.
p/s : Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya meskipun dia sudah mati.

Baca Selanjutnya......

Fadhilat Surah Al-Ikhlas

foto Fadhilat Surah Al-Ikhlas

Sesungguhnya Al-Quran itu mengandungi sejuta hikmah. Surah Al-Ikhlas adalah diantara surah yang banyak fadhilatnya

Ketika Memulakan Kerja

Bacalah ayat ini sebelum anda memulakan apa-apa saja kerja kerana dengan bacaan ini akan keluarlah iblis dan syaitan yang berada didalam tubuh kita dan juga di sekeliling kita, mereka akan berlari keluar umpama cacing kepanasan.

Sebelum Masuk Ke Rumah

Sebelum anda masuk rumah, bacalah surah Al-Ikhlas (sebanyak 3 kali. Masuklah rumah dengan kaki kanan dan dengan membaca bismillah. Berilah salam kepada anggota rumah dan sekiranya tiada orang di rumah berilah salam kerana malaikat rumah akan menyahut.

Amalkanlah bersolat kerana salam pertama (ianya wajib) yang diucapkan pada akhir solat akan membantu kita menjawab persoalan kubur. Apabila malaikat memberi salam, seorang yang jarang bersolat akan sukar menjawab salam tersebut. Tetapi bagi mereka yang kerap bersolat, amalan daripada salam yang diucap di akhir solat akan menolongnya menjawab salam malaikat itu.

Ketika Sakit

Sabda Rasulullah S..A.W yang bermaksud: Barangsiapa membaca surah Al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka dia tidak akan membusuk di dalam kuburnya, akan selamat dia dari kesempitan kuburnya dan para malaikat akan membawanya dengan sayap mereka melintasi titian siratul mustaqim lalu menuju ke syurga. Demikian diterangkan dalam Tadzikaratul Qurthuby).

Khatam al-Quran

Rasulullah SAW pernah bertanya sebuah teka-teki kepada umatnya: Siapakah antara kamu yang dapat khatam Qur’an dalam jangka masa dua-tiga minit? Tiada seorang dari sahabatnya yang menjawab. Malah Saiyidina Ummar telah mengatakan bahawa ianya mustahil untuk mengatam Qur’an dalam begitu cepat.
Kemudiannya Saiyyidina Ali mengangkat tangannya. Saiyidina Ummar bersuara kepada Saiyidina Ali bahawa Saiyidina Ali (yang sedang kecil pada waktu itu) tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Lantas Saiyidina Ali membaca surah Al-Ikhlas tiga kali.

Rasulullah SAW menjawab dengan mengatakan bahawa Saiyidina Ali betul. Membaca surah Al-Ikhlas sekali ganjarannya sama dengan membaca 10 jus kitab Al-Quran. Lalu dengan membaca surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali qatamlah Quran kerana ianya sama dengan membaca 30 jus Al-Quran. Pahala membacanya

Berkata Ibnu Abbas r.a. bahawa Rasulullah SAW telah bersabda : Ketika saya (Rasulullah SAW) israk ke langit, maka saya telah melihat Arasy di atas 360,000 sendi dan jarak jauh antara satu sendi ke satu sendi ialah 300,000 tahun perjalanan. Pada tiap-tiap sendi itu terdapat padang sahara sebanyak 12,000 dan luasnya setiap satu padang Sahara itu seluas dari timur hingga ke barat.

Pada setiap padang sahara itu terdapat 80,000 malaikat yang mana kesemuanya membaca surah Al-Ikhlas. Setelah mereka selesai membaca surah tersebut maka berkata mereka :
Wahai Tuhan kami, sesungguhnya pahala dari bacaan kami ini kami berikan kepada orang yang membaca surah Al-Ikhlas baik ianya lelaki mahupun perempuan.

Sabda Rasulullah SAW lagi : Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, sesungguhnya Qul Huwallahu Ahadu itu tertulis di sayap malaikat Jibrail a.s, Allahhus Somad itu tertulis di sayap malaikat Mikail a.s, Lamyalid walam yuulad tertulis pada sayap malaikat Izrail a.s, Walam yakullahu kufuwan ahadu tertulis pada sayap malaikat Israfil a..s.

Nota

Jika sekiranya kawan-kawan ingin mengumpul saham akhirat, sampaikanlah ilmu ini kepada kawan2 yang lain. Sepertimana sabda Rasulullah SAW : ‘Sampaikanlah pesananku walaupun satu ayat’. Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama :
(1) Sedekah/amal jariahnya,
(2) Doa anak-anaknya yang soleh dan
(3) Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain.

…Wallahu a’lam

Baca Selanjutnya......

Jagalah Tujuh Sunnah Rasulullah

foto Jagalah Tujuh Sunnah Rasulullah


Pertama:
Tahajud, kerana kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajudnya.

Kedua:
Membaca al-Quran sebelum terbit matahari. Alangkah indahnya, sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata melihat dan membaca al-Quran dengan penuh pemahaman.

Ketiga:
Jangan tinggalkan masjid terutama waktu Subuh. Sebelum melangkah ke mana pun. langkahkan kaki ke masjid kerana masjid pusat keberkahan.

Keempat:
Jaga solat Dhuha kerana kunci rezeki terletak pada solat Dhuha.

Kelima:
Jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yang suka bersedekah dan malaikat selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.

Keenam:
Jaga wudhu’ terus-menerus kerana Allah menyayangi hamba yang berwudhu’.

Ketujuh:
Amalkan istighfar setiap hari. Dengan istighfar, masalah yang terjadi kerana dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.

Baca Selanjutnya......

Thursday, April 8, 2010

Hukum Membaca Al Quran Ketika Haid

foto Hukum Membaca Al Quran Ketika Haid

PERTANYAAN:
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Ust.Afwan ana mo tanya. Dibuku Ulumul Qur'an menurut ust. wanita haid boleh membaca al qur'an. Yg saya tanyakan: Pengetahuan yg saya dptkan baru sampai pada Wanita haid boleh membaca al qur'an hanya untuk proses belajar mengajar, bagaimana mnrt Ust.? Jika saya ingin khatam Qur'an cepat, hafalan boleh saya pegang mushaf selalu ?

Jazakalloh Khoiron Katsiro

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

[SRIMULYANI]

JAWAPAN:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb

Alhamdulillah atas semangat anda untuk senantiasa ingin bersama Al Qur`an, semoga diberikan keistiqomahan,amin.

Hukum wanita Haidl membaca Alqur`an memang ada 2 pendapat. Bagi yang
membolehkan karena keberadaan Haditsnya Dloif. Sedangkan jika anda
ingin memegang mushaf saat tilawah(dlm keadaan Haidl) maka untuk lebih
hati-hatinya dengan mushaf tarjamah, walaupun sebenarnya tidak termasuk
berdosa jika anda tetap menggunkan mushaf yang biasa.berikut saya
sertakan tambahan beberapa penjelasan tentang hal tsb.

Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a
“Artinya : Dari jalan Abdul Malik bin Maslamah (ia berkata) Telah menceritakan kepadaku Mughirah bin Abdurrahman, dari Musa bin Uqbah dan Naafi, dari Ibnu Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh bagi orang junub membaca sedikitpun juga dari (ayat) Al-Qur’an”

Menurut sebagian para Ulama’ kedudukan hadits ini adalah DhA’IF. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni (1/117)
Al-Hafidz Ibnu Hajar telah melemahkan riwayat di atas disebabkan Abdul Malik bin Maslamah seorang rawi yang dla’if (Talkhisul Habir 1/138)

Hadits yang lain dari jalan Ibnu Umar.
“Artinya : Dari seorang laki-laki, dari Abu Ma’syar, dari Musa bin Uqbah, dari Naafi, dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Perempuan yang haid dan orang yang junub, keduanya tidak boleh membaca sedikitpun juga dari (ayat) Al-Qur’an”
Hadits ini juga DhA’IF menurut sebagian Ulama’. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni (1/117)

Riwayat ini dha’if karena :
Pertama : Ada seorang Rawi yang mubham (tidak disebut namanya yaitu dari seorang laki-laki).
Kedua : Abu Ma’syar seorang Rawi yang dha’if.
Hadits yang lain dari jalan Jabir bin Abdullah.

“Artinya : Dari jalan Muhammad bin Fadl, dari bapaknya, dari Thawus, dari Jabir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh bagi perempuan yang haidh dan nifas (dalam riwayat yang lain : Orang yang junub) membaca (ayat) Al-Qur’an sedikitpun juga (dalam riwayat) yang lain : Sedikitpun juga dari (ayat) Al-Qur’an)”

Sedangkan kedudukan hadits ini MAUDHU’, Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni (2/87) dan Abu Nua’im di kitabnya Al-Hilyah (4/22).

Ketika hadits-hadits diatas dari semua jalannya dha’if bahkan hadits terakhir maudhu’, maka tidak bisa dijadikan sebagai dalil larangan bagi perempuan haidh dan nifas dan orang yang junub membaca Al-Qur’an. Bahkan telah datang sejumlah dalil yang membolehkannya.

Apabila tidak ada satu pun dalil yang sah (shahih dan hasan) yang melarang perempuan haidh, nifas dan orang yang junub membaca ayat-ayat Al-Qur’an, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum asal tentang perintah dan keutamaan membaca Al-Qur’an secara mutlak termasuk perempuan haidh, nifas dan orang yang junub.

Hadits ‘Aisyah ketika dia haidh sewaktu menunaikan ibadah haji.
“Artinya : Dari ‘Aisyah, ia berkata : Kami keluar (menunaikan haji) bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dan) kami tidak menyebut kecuali haji. Maka ketika kami sampai di (satu tempat bernama) Sarif aku haid. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku dan aku sedang menangis, lalu beliau bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Jawabku, “Aku ingin demi Allah kalau sekiranya aku tidak haji pada tahun ini?” Jawabku, “Ya” Beliau bersabda, “Sesungguhnya (haidh) ini adalah sesuatu yang telah Allah tentukan untuk anak-anak perempuan Adam, oleh karena itu kerjakanlah apa-apa yang dikerjakan oleh orang yang sedang haji selain engkau tidak boleh thawaf di Ka’bah sampai engkau suci (dari haidh)”

Shahih riwayat Bukhari (no. 305) dan Muslim (4/30)
Hadits yang mulia ini juga dijadikan hujjah oleh Al-Imam Al-Bukhari dan yang lain tentang bolehnya orang yang junub dan perempuan haidh atau nifas membaca Al-Qur’an. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdzikir kepada Allah atas segala keadaannya dan yang termasuk berdzikir ialah membaca Al-Qur’an.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikra [2] (Al-Qur’an) ini, dan sesungguhnya Kami jugalah yang akan (tetap) menjaganya” [Al-Hijr : 9]

“Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikra (Al-Qur’an) supaya engkau jelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka dan agar supaya mereka berfikir” [An-Nahl : 44]

Meskipun demikian menyebut nama Allah atau membaca Al-Qur’am dalam keadaan suci (berwudhu) lebih utama yakni hukumnya sunat berdasarkan hadits shahih di bawah ini.

“Artinya : Dari Muhaajir bin Qunfudz, sesungguhnya dia pernah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang buang air kecil (kencing), lalu ia memberi salam kepada beliau akan tetapi beliau tidak menjawab (salam)nya sampai beliau berwudlu. Kemudian beliau beralasan dan bersabda : ”Sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Allah (berdzikir) kecuali dalam keadaan suci (berwudlu)” [Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan lain-lain]

Wallahu ‘alam Bishshowab



sumber : alhikmah


Baca Selanjutnya......

Saturday, February 20, 2010

Sungai Di Bawah Lautan


"Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery ' pasti
kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi "Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. ."Artinya: "Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus." Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi "Yakhruju minhuma lu ' lu`u wal marjaan" ertinya "Keluar dari keduanya mutiara dan marjan." Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur ' an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur ' an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur ' an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannyamutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Allahu Akbar...! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air." Bila seorang bertanya, "Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?" Rasulullah s.a.w. bersabda, "Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran."


Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita , Mexico . Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah "sungai" di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.







Namun pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, namun nampak seperti sungai... luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah s.w.t.



Baca Selanjutnya......